LogoDIGINATION LOGO

Sakit dan Nggak Bisa Datang ke Dokter? Kontak Medi-Call Aja!

Oleh Alfhatin Pratama Kamis, 31 Januari 2019 | 08:15 WIB
Share
Ilustrasi layanan kesehatan (shutterstock)
Share

Selain ekonomi dan pendidikan, indikator dalam Human Development Index (HDI) atau  Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah kesehatan. Indikator kesehatan ini adalah sektor yang cukup kompleks untuk dapat ditangani sendiri oleh pemerintah. Walaupun berbagai strategi terus diupayakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, tidak serta-merta menyelesaikan semua permasalahan yang ada.

Melihat peluang ini, sebuah startup kesehatan, Medi-Call memberikan layanan kesehatan yang dapat datang ke lokasi pasien. Startup ini didirikan oleh tiga orang dokter dan satu ahli teknologi, Candra Wijanadi, Budhi Riyanta, Stephanie Patricia, dan Bagas Prama Ananta.

"Februari 2017 kami hadir di Bali dan kawasan Jabodetabek. Satu tahun kami jalani sebagai trial dan proses pembelajaran. Maret 2018, kami mulai ke kota-kota besar seperti Yogyakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar," kata Budhi Riyanta, CEO dan Co-Founder Medi-Call ketika ditemui Digination.id.

Baca juga: Menkominfo Sebut Aplikasi Pendidikan dan Kesehatan ‘Lahan Basah’ untuk Startup

Budhi Riyanta, CEO dan Co-Founder Medi-Call | Foto: Alfhatin Pratama
Salah satu latar belakang didirikannya startup ini adalah masalah imobilitas pada pasien. Jika kondisi pasien tidak memungkinkan untuk mendatangi fasilitas kesehatan, maka petugas kesehatan lah yang harus mendatangi pasien. Ceruk ini lah yang menjadi peluang karena masih jarang tersentuh oleh startup kesehatan lain, bahkan oleh pemerintah sendiri. 

"Di Indonesia, penduduk usia lanjut dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada usia ini seorang akan sering mengalami masalah imobilitas. Kondisi ketika seorang yang tidak bisa berangkat menuju fasilitas kesehatan karena tidak ada yang mengantar, menderita penyakit yang kompleks, atau penyakit kronis. Mau tidak mau, tenaga kesehatan harus mendatangi pasien untuk melakukan pemeriksaan," tambahnya.

Beberapa layanan yang ditawarkan adalah panggil dokter ke lokasi pasien yang tersedia 24 jam, panggil perawat home care ke rumah dan care giver untuk orang sakit. Kemudian ada bidan home care pasca rawat inap ibu hamil, layanan vaksin dan vitamin, dan pemeriksaan fisik oleh dokter. Biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien bergantung pada jenis layanan yang dipilih.

Baca juga: 3 Kunci Sukses Bisnis Digihealth

Layanan kesehatan Medi-Call | Dok. Pribadi
Pada tahap awal berdirinya startup yang bermitra dengan Apotek K24 ini, tidak sedikit pihak yang meragukan mereka. Permintaan layanan kesehatan dari pasien juga jauh dari ekspektasi. Partner-nya, yaitu dokter, perawat, bidan, dan fisioterapis pun bisa dihitung dengan jari.

"Sekarang, jika ada pasien yang request, sudah ada 10 partner kami yang siap sedia. Setiap bulan, yang masuk lebih dari 1.000 orang di 17 kota di Indonesia, mayoritas di Pulau Jawa dan Bali. Permintaannya pun selalu meningkat 20% setiap bulan, umumnya di hari libur karena fasilitas kesehatan banyak yang tutup. Hingga saat ini, lebih banyak pasien yang request melalui Call Center 24 Jam dibandingkan melalui aplikasi di smartphone," kata Budhi.

Berkat kerja keras semua tim, kini Medi-Call tidak hanya hadir di Bali dan Jabodetabek. Mereka juga ada di Sukabumi, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Selain itu mereka ada di kota-kota di luar Pulau Jawa dan Bali, seperti Medan, Palembang, Lampung, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Manado, dan Sorong.

"Salah satu faktor yang membantu kami hadir dengan cepat di berbagai daerah di Indonesia adalah mitra kami, Apotek K24, yang telah menjangkau 420 titik di seluruh Indonesia," ujarnya.

Baca juga: 5 Hal Ini Bisa Digihealth Lakukan

Tim Medi-Call | Dok. Pribadi
Partnernya pun semakin bertambah. Sekarang ada 387 Dokter, 379 Perawat, 480 Bidan, dan 130 Fisioterapis yang siap datang ke lokasi pasien kapan saja dibutuhkan. Mereka semua sudah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR), Surat Ijin Praktik (SIP), dan telah mengikuti pelatihan yang diadakan Medi-Call.

Dalam waktu dekat, startup ini menargetkan memiliki total 5.000 partner, mengoptimalisasi layanan di kota-kota yang telah terjangkau, dan hadir di lebih dari 20 kota di Indonesia.

"Sampai tahun 2020 kami akan fokus di Indonesia terlebih dahulu. Indonesia adalah market yang besar, hampir sekira 50% dari Asia Tenggara. Jika sudah settled di Indonesia, baru kami akan ekspansi ke luar," tutup Budhi optimis.

Baca juga: Ini Risiko di Balik Canggihnya Aplikasi Digihealth

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

10 Teknologi Kesehatan Masa Depan

Kemajuan dunia media tidak bisa lepas dari peran teknologi di dalamnya. Teknologi canggih ini membantu meningkatkan mutu perawatan kesehatan untuk lebih baik lagi. Lalu apa saja teknologi yang dimanfaatkan dalam dunia kesehatan? Berikut 10 daftarnya.

Sabtu, 3 November 2018 | 16:00 WIB
LATEST ARTICLE

Mencari Pekerjaan Sesuai Passion? Jangan!

Sering mendengar semboyan “Bekerjalah sesuai passion?" Katanya jika bekerja sesuai passion, maka sukses akan mudah terbentang. Ah, masa iya?

Senin, 18 Februari 2019 | 11:15 WIB

Dari Gates Sampai Zuckerberg, Siapa yang Paling Dermawan?

Mau tahu siapa saja sosok CEO yang paling dermawan di dunia? Siapa tahu kamu akan terinspirasi dan menyusul langkah mereka. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah daftar CEO perusahaan teknologi yang paling gila menyumbang.

Jumat, 15 Februari 2019 | 16:15 WIB

Sukses Cara Gila Ala Jeff Bezos!

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah hidup Jeff Bezos. Berikut adalah prinsip-prinsip bisnis alanya yang bisa kamu contoh.

Jumat, 15 Februari 2019 | 11:15 WIB

Pertimbangkan 4 Hal Ini Sebelum Melamar Kerja!

Bukan hanya posisi, perusahaan yang dilamar pun harus dilihat terlebih dahulu. Kira-kira apa saja hal yang harus dipertimbangkan untuk memilih perusahaan yang cocok untukmu? Simak artikel berikut!

Kamis, 14 Februari 2019 | 16:15 WIB

Purl: Sindir Budaya Kantor!

Baru-baru ini Pixar kembali menelurkan film terbarunya ,Purl. Purl memiliki pesan moral tersembunyi yang menyindir budaya kantor.

Selasa, 12 Februari 2019 | 08:15 WIB