LogoDIGINATION LOGO

Berani Ninggalin Smartphone-mu Sejenak?

Oleh Ana Fauziyah Jumat, 14 Desember 2018 | 11:15 WIB
Share
Ilustrasi dampak buruk smartphone. (Foto: Pexels)
Share

Kira-kira bisakah kamu meninggalkan smartphone sejenak selama 1 - 2 hari, bahkan seminggu atau sebulan? Mungkin kebanyakan menjawab tidak bisa. Bagaimana tidak? Di era di mana kita dituntut untuk saling terhubung terus menerus, keberadaan smartphone telah menjadi benda wajib yang harus selalu kita bawa. Bahkan kamu mungkin lebih memilih lupa membawa dompet daripada smartphone, iya, kan?

Tengok saja sebabnya! Semua instruksi pekerjaan dikomunikasikan lewat WhatsApp, komunikasi dengan teman, kerabat, rekan kerja, klien, dan pelanggan semuanya juga terjadi dalam aplikasi smartphone. Begitu banyak pekerjaan yang harus diakses melalui smartphone, termasuk bagaimana mengatur gaya hidup kita sehari-hari juga bisa dilakukan. Bahkan untuk mendapat hiburan, pun kita membuka Youtube, Instagram, e-book dan lain sebagainya.

Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, melansir Medium, Selasa (12/11), rata-rata orang dewasa memeriksa ponsel mereka 50 - 300 kali setiap hari. Mereka melakukan tap, geser (swipe) dan klik pada perangkat mereka rata-rata 2.617 kali per hari. Totalnya sekitar 5 jam, yaitu sepertiga waktu terjaga setiap harinya. Hal tersebut berarti waktu yang kita habiskan untuk online hampir sama dengan waktu tidur kita. Bahkan dalam beberapa kasus, banyak orang yang menghabiskan lebih banyak waktu online daripada tidur.

Baca juga: Hidup Tanpa Digital, Mungkin Gitu?

Terus-menerus terpaku pada layar smartphone ditambah waktu bekerja di depan komputer ternyata bisa berdampak buruk, lho. Menurut penelitian yang dilaporkan Independent, dikutip pada Selasa (12/11), penggunaan smartphone terus-menerus membuat orang menunjukkan gejala seperti penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yaitu tidak perhatian dan hiperaktif, konsentrasi berkurang, sering gelisah, dan kurangnya kualitas tidur. Penggunaan smartphone yang tinggi juga terkait dengan gejala depresi, kecemasan, dan harga diri yang rendah.

Saat ini telah berkembang sindrom yang disebut nomophobia, yaitu perasaan panik atau stres ketika dipisahkan dari ponsel. Saat seseorang tidak membawa ponsel dalam jangka waktu tertentu, ia akan merasa cemas dan stres. Hal ini menurut peneliti dikarenakan smartphone telah menjadi begitu canggih dan pribadi bagi kita. Smartphone telah menjadi perpanjangan diri kita secara de facto karena banyak identitas kita yang terhubungkan dengannya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Menurut Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows, hal itu karena smartphone dan web browser menghadirkan rangsangan sensorik dan kognitif, memiliki 4 karakteristik utama; berulang-ulang, interaktif, adiktif dan intensif.

Berulang-ulang berarti informasi yang masuk dan diterima oleh otak kita berlangsung secara berulang-ulang. Interaktif, di mana sebagian besar media adalah media sosial, sehingga jika menghilang sebentar dari percakapan online, maka kita akan merasa seolah tidak terlihat dan tidak relevan. Adiktif yang berarti kita terdorong untuk selalu terhubung secara online agar selalu terlihat. Intensif dalam artian bahwa media sosial memberikan pengalaman yang lebih menarik daripada media konvensional lainnya.

Baca juga: Era Digital, Industri Kesehatan Hadapi Bahaya Ini

Ilustrasi penggunaan smartphone. (Foto: Pexels)
Terus-menerus terhubung secara online memang sangat mempengaruhi tubuh dan pikiran kita. Media ternama di Amerika, Huffington Post bahkan pernah menulis “Smartphones are the new cigarettes” sebagai tajuk utama untuk menggarisbawahi pengaruh smartphone yang bisa menyebabkan kecanduan seperti rokok. Candu Facebook dan Google bahkan dianggap lebih kuat daripada candu rokok, efek adiktifnya dinilai lebih besar.

So, jika merasa ponsel telah mengambil alih hidupmu, lakukan detoks digital. Mulai dengan menyeimbangkan kehidupan digital dengan kehidupan nyata. Belajarlah untuk tidak terlalu bergantung sepenuhnya pada dunia online. Belajarlah untuk tidak membuka dan membaca setiap status teman-temanmu, berhenti memikirkan apa sebaiknya yang harus kamu update di media sosial, dan kurangi waktu mencari hiburan melalui smartphone.

Sebagai gantinya, jadwalkan untuk melakukan kegiatan outdoor seperti bersepeda mengelilingi kompleks perumahan, jogging di taman, hiking atau pergi berwisata alam. Cobalah temui teman-temanmu secara tatap muka, alih-alih menyapanya lewat WhatsApp. Kunjungi mereka di rumahnya, mengobrol, bercanda dan tertawa bersama-sama. Habiskan lebih banyak waktu dengan anggota keluarga, bisa dengan membantu memasak, berkebun, atau berbelanja di supermarket bersama alih-alih berbelanja secara online.

Mau lebih bahagia? Tinggalkan ponselmu sejenak!

Baca juga: Lebih Produktif di Era Digital? Bisa!

  • Editor: Dikdik Taufik Hidayat
  • Sumber: Independent, Medium, Buku "The Shallow" karya Nicholas Carr
TAGS
RECOMMENDATION

10 Tips untuk Mengalahkan Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Kebiasaan suka menunda-nunda pekerjaa ini terkesan sepele namun jika terus-menerus dibiarkan akan berdampak besar. Kebiasaan jelek ini bisa mengganggu karier dan kepercayaan dirimu.

Senin, 19 November 2018 | 14:00 WIB

6 Cara Hadapi "Toxic Boss"

Punya bos yang gak enak tentu akan berpengaruh pada produktivitas dan kualitas kerja. Jangan buru-buru resign, pelajari dulu 6 hal ini

Senin, 10 Desember 2018 | 11:15 WIB
LATEST ARTICLE

Fajar Merekah Bagi eSport di tahun 2019!

Akhir-akhir ini eSport selalu menjadi perbincangan. Kira-kira bagaimana, ya di 2019? Apa kah eSport semakin populer? Yuk, simak prediksinya.

Kamis, 17 Januari 2019 | 11:15 WIB

Belum Tahu eSport? Yuk, Kenali!

Dunia eSport di 2019 terus berkembang tapi masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Yuk, simak pengenalan dunia eSport berikut ini!

Rabu, 16 Januari 2019 | 16:15 WIB

3 Skill IT yang Wajib Dikuasai para Entrepreneur

Ilmu bisnis dan manajemen saja tak cukup membuat bisnis bertahan. Zaman now, pengetahuan tentang bisnis digital dan IT menjadi yang utama. Apa saja yang harus dipelajari para entrepreneur?

Rabu, 16 Januari 2019 | 11:15 WIB

Bikin Startup Masih Ribet, Ini Sebabnya!

Peluang membangun startup di Indonesia selalu terbuka lebar. Namun, apakah birokrasi menjadi faktor bergugurannya startup di tengah jalan?

Selasa, 15 Januari 2019 | 08:15 WIB