LogoDIGINATION LOGO

5 Langkah Membuat dan Menjual Board Game Sendiri

Oleh Alfhatin Pratama Minggu, 7 Oktober 2018 | 12:25 WIB
Share
ilustrasi prototipe game (Shutterstock)
Share

Bisnis board game, atau lebih tepatnya tabletop game, sedang berkembang di Indonesia. Bahkan, dukungan dari pemerintah pun sudah mulai ada. Misalnya lewat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang akan membuka booth Archipelageek di ajang pameran internasional Essen Spiel 2018 di Jerman akhir Oktober 2018.

Kalau kamu senang bermain board game, mungkin kamu juga tertarik untuk coba-coba membuat game sendiri dan terjun ke bisnis tersebut. Berikut adalah tahapan-tahapan yang bisa kamu lalui untuk melakukan itu.

Pertama, kamu harus memiliki rancangan game sendiri. Dalam melakukan ini kamu bisa sendirian atau bisa mengajak teman. Namun, seperti juga kolaborasi lainnya, pastikan bahwa tim yang dibentuk memang punya visi dan misi yang sama.

Idealnya, dalam membuat rancangan game, pahami dulu apa itu game. Kemudian pahami apa yang disampaikan oleh game tersebut. Ini mungkin agak sedikit membingungkan, namun sederhananya: setiap game memiliki unsur ‘komunikasi’.

Brandon Rollins, pendiri Pangea Games, menyebutkan setidaknya ada lima lapisan komunikasi yang bisa disampaikan sebuah game. Lima lapisan itu, dari lapis terdalam hingga kulitnya, adalah sebagai berikut: Core Engine, Mechanic, Rules, Internal Narrative dan External Narrative.

Intinya, ada kedalaman tertentu yang bisa kamu selami soal pembuatan game itu sendiri. Ibaratnya mau bisnis pakaian, kamu juga tentu akan mempelajari seluk-beluk soal pakaian juga kan? Sedalam apa kamu mau menyelam, ya itu sih terserah.

Baca juga: Nih Dia, 8 Board Game Unggulan Indonesia di Pameran Internasional!

ilustrasi prototipe game (Shutterstock)

Kedua, tahap berikutnya, adalah menguji game buatanmu. Jadi, setelah kamu punya ide soal game lalu mulai menuangkannya dalam sebuah prototype, jangan langsung berpuas diri. Tahap yang sangat penting adalah playtesting alias uji main.

Di sini kamu mungkin akan mengumpulkan beberapa teman, sanak saudara, kerabat, handai taulan atau bahkan orang asing yang ketemu di jalan. Bukan hanya menceritakan ide tentang game itu, mereka harus mencoba bermain.

Ini penting. Game itu pada akhirnya adalah bagaimana pemainnya. Karena itu kamu harus menguji game buatanmu untuk dimainkan oleh orang lain. Pada tahap ini kamu jangan baper kalau pemain tidak suka dengan game itu. Berbesar hatilah dalam menanggapi semua masukan dan kritik.

Catat semua hasil playtest dan jadikan itu masukan yang berharga. Masalah mau kamu terapkan atau tidak. Ya, lagi-lagi, itu sih terserah.

Ketiga, ulangi dua langkah di atas. Serius! Kalau kamu mau jadi pembuat game yang handal, kamu harus berani mengulangi dua langkah di atas sampai beberapa kali. Itu pun kadang belum tentu cukup untuk menghasilkan game yang ciamik.

Baca juga: Sudah Main Board Game Hari Ini?

ilustrsi prototipe game (Shutterstock)

Keempat, kalau kamu sudah yakin dengan langkah-langkah sebelumnya, kamu bisa mulai membuat rancangan tampilan game itu.

Kebanyakan game memiliki perancang game dan perancang tampilan yang berbeda. Hal ini tentunya agar masing-masing bisa fokus pada keahlian masing-masing dan menghasilkan karya terbaik.

Sebagai catatan, ada kalanya tampilan game yang sudah dibuat akan diubah lagi pada tahap berikutnya. Terutama jika kamu memilih jalur penerbit.

Kelima, tahapan terakhir dari berbisnis game adalah menjualnya. Jalur penjualan yang bisa kamu pilih ada beberapa: terbitkan sendiri atau pakai penerbit game.

Di Indonesia, belum terlalu banyak penerbit game. Cobalah googling sebentar untuk mencari kontak dari penerbit game. Beberapa di antaranya termasuk Manikmaya (Bandung), Chiveus (Jakarta), Hompimpa (Solo) atau Tabletoys (Surabaya).

Sedangkan untuk menerbitkan sendiri, jangan khawatir, ini juga jalan yang cukup banyak dilakukan oleh perancang game di Indonesia. Persoalannya kini adalah soal skala, apakah mau menerbitkan skala kecil atau besar. Seberapa banyak modal yang kamu punya?

Soal berjualan board game ini memang ada kerumitan tersendiri. Misalnya, bisa saja kamu memilih jalur crowdfunding lewat Kickstarter, namun belum terlalu banyak kisah sukses game Indonesia di platform tersebut.

Mungkin -- dan ini sepenuhnya spekulasi lho -- kalau kamu baru mulai langkah paling masuk akal adalah produksi skala kecil dan dijual dari teman ke teman alias word of mouth. Kalau game kamu memang bagus, pasar juga akan merespon kok.

Baca juga: Hobi Bermain? Ini Pelajaran Bisnis Darinya...

ilustrasi prototipe game (Shutterstock)

Tulisan ini hanya memberikan gambaran umum saja. Di setiap tahapan di atas ada rincian-rincian yang kamu perlu pelajari sendiri dan alami sendiri untuk bisa mempertajam bisnis kamu.

Harapannya, tahapan-tahapan itu sudah cukup memberikan gambaran apakah bisnis board game adalah sesuatu yang mau kamu lakoni atau tidak.

Tentunya, seperti bisnis pada umumnya, sebelum melangkah sebaiknya lakukan perhitungan yang matang dan pastikan kamu sanggup menanggung kerugian apabila bisnis ini gagal.

Berani coba?

  • Editor: Wicak Hidayat
TAGS
RECOMMENDATION

4 Tips Membangun Merek Game

Kampanye secara tradisional, seperti mencari ide, membuat desain, membangunnya, merilisnya, dan mengulanginya terus, tidak cukup berguna dalam membangun game

Senin, 23 April 2018 | 10:55 WIB

Game Gratis Bisa Jadi Mesin Bisnis

Siapa sih yang tidak kenal sama game “Fortnite: Battle Royale”? Game buatan Epic Games ini mampu menyita perhatian banyak orang karena dapat dimainkan secara gratis

Senin, 23 Juli 2018 | 02:09 WIB

Hobi Bermain? Ini Pelajaran Bisnis Darinya...

Pelajaran berharga juga bisa kamu dapatkan dari sebuah papan permainan. Berawal darinya, kamu akan menjadi entrepreneur yang hebat. Yuk, simak ulasannya...

Rabu, 3 Oktober 2018 | 11:30 WIB
LATEST ARTICLE

Dekorasi Interior ala Living Loving

Mendekorasi rumah atau interior ruangan ternyata gampang-gampang susah. Living Loving berbagi untuk itu...

Selasa, 16 Oktober 2018 | 16:20 WIB

Berani Gagal dan Percayailah Ide Gilamu

Berstatus mahasiswa bukan alasan untuk tidak berbisnis, justru di usiamu yang masih muda tersebut adalah saat yang tepat untuk memulai jadi entrepreneur

Selasa, 16 Oktober 2018 | 11:20 WIB

IMF-WBG Luncurkan Digital Economy for All

2018 Annual Meeting IMF-WBG meluncurkan inisiatif Digital Economy for All (DE4All) karena ekonomi digital dianggap sangat penting di tengah masifnya perkembangan teknologi

Senin, 15 Oktober 2018 | 16:20 WIB

Belajar dari 5 Produk Gagal Google

Google akan menutup Google Plus, satu lagi produk gagal dari raksasa internet tersebut. Apa yang bisa kita pelajari?

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 16:20 WIB

Bisnis Jam Tangan Semen Dimulai dari Tidak Peduli

"Kami bisa menumpahkan segalanya, terlebih keegoisan dan pengetahuan kami, ke dalam produk dan membuat sesuatu tanpa peduli siapapun" ujar Restu Irwansyah Setiawan, salah satu pendiri Lakanua.

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 13:00 WIB

Salah Cari Partner Bisnis? Awas Bubar di Tengah Jalan

"Partner harus sangat tahu ide dan visi kamu itu seperti apa. Karena banyak kejadian saat partner dapat salah visi, salah komunikasi di tengah jalan, bubar," kata Christian Sugiono.

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 08:50 WIB