LogoDIGINATION LOGO

Yap! Nih Trik Marketing Crazy Rich Asians

Oleh Aulia Annaisabiru Jumat, 14 September 2018 | 16:20 WIB
Share
salah satu adegan dalam film Crazy Rich Asians (foto dari Official Site)
Share

Belakangan ini kamu pasti sering dengar tentang film Crazy Rich Asians, film yang sedang populer sekarang ini. Sukses film itu bisa jadi pelajaran buat kamu yang sedang merintis bisnis, lho. 

Film yang bergenre komedi romantik ini sempat menduduki puncak Box Office di AS. Sejak diputar pada Rabu (15/8) waktu setempat di Amerika Serikat, film ini telah mengantongi keuntungan sebesar USD 34 juta. Suatu keberhasilan besar bagi film produksi Warner Bros ini yang hanya mengeluarkan USD 30 juta untuk biaya produksinya.

Crazy Rich Asians diadopsi dari novel best seller karya Kevin Kwan dengan judul yang sama. Film berlatar Singapura ini bercerita tentang kisah cinta seorang perempuan keturunan Asia yang juga merupakan profesor ilmu Ekonomi di New York University bernama Rachel Chu dengan kekasihnya, Nick Young yang berasal dari Singapura. Awal mula cerita ini, ketika seorang gadis New York, Rachel Chu menemani pacarnya untuk pergi ke pernikahan sahabatnya di Singapura, sekaligus mengenalkan Rachel kepada keluarganya. Perjalanannya menjadi sesuatu yang mengejutkan sekaligus berat bagi Rachel kala mengetahui Nick berasal dari keluarga yang amat kaya raya.

Crazy Rich Asians adalah film Asia sentris pertama dalam 25 tahun terakhir sejak dirilisnya film The Joy Luck Club tahun 1993. Film ini berhasil menggebrak Hollywood untuk menepis kontroversi kurangnya keragaman etnis di industri perfilman selama ini. Kesuksesan film ini menjadi "wake up call" bagi studio-studio yang selalu menghindari memainkan artis keturunan Asia.  Crazy Rich Asians adalah sebuah fenomena, dibungkus dengan judul yang mudah diingat dan menarik, bahkan laman agregator Rotten Tomatoes memberi nilai 93 % untuk film ini. 

Baca juga: Bekraf Sukses Gelar Akatara, Forum Pendanaan Film Pertama di Indonesia

Kiri ke Kanan: Ken Jeong, Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Awkwafina, Jing Lusi, dan Produser

Ada beberapa pelajaran yang bisa kamu petik dari film ini...

Pelajaran pertama: Pasar haus akan produk yang unik dan berbeda. Tidak mudah membuka mata Hollywood untuk mengubah arah dan merangkul realitas bahwa banyak orang Asia yang tinggal di Amerika. Crazy Rich Asians membuktikan bahwa realitas ini tidak bisa dibantah, ada kehausan kisah tentang Asia-Amerika di layar lebar. Di lain sisi ada komunitas keturunan Asia-Amerika yang berisi orang-orang yang penuh gairah dan paham bahwa media sosial dapat mendukung film ini (40% dari penonton film selama akhir pekan adalah orang Asia-Amerika).

Pelajaran kedua: Butuh dukungan para influencer. Selama beberapa minggu terakhir, sekelompok orang Asia-Amerika memulai kampanye dengan hastag #OpenGold untuk mendukung film ini. Produser The Joy Luck Club, Janet Yang, bintang Kpop, Eric Nam, co-founder Twitch, Eric Lim dan digital entrepreneur sekaligus mantan eksekutif Youtube, Bing Chen turut mendukung film ini melalui sosial media, membuat makan malam dengan para influencer, dan menyewa banyak bioskop untuk memutar film ini sebelum dan sesudah opening week.

"Kami adalah kekuatan yang dapat membantu membuka jalan untuk film ini, menjangkau orang-orang yang biasanya tidak terjangkau dengan cara-cara tradisional. Sangat menyenangkan melihat fenomena ini, banyak orang yang semangat dan terinspirasi karenanya," kata Yang.

Sampai-sampai Warner Bros, yang baru-baru ini menciptakan divisi pemasaran multikultural, memanggil Yang serta rekannya untuk menyusun strategi pemasaran sebelum film dirilis. "Lihat, kita bisa berhasil!" ujar Terra Potts, Senior VP divisi pemasaran multikultural.

Baca juga: Docs By The Sea Harapan Baru Sineas Film Dokumenter Indonesia

Kolaborasi semacam ini tidak pernah dilakukan The Joy Luck Club karena saat itu orang Asia tidak masuk sebagai demografi. The Joy Luck Club tidak memenfaatkan media sosial sebagai penghubung dan penggalang dukungan seperti yang dilakukan Crazy Rich Asians. Tidak pula ada dukungan Netflix yang menggaungkan konten Asia guna mempenetrasi pasar. Hal lain yang tidak dimiliki Joy Luck Club adalah film atau acara TV lain untuk menangkap momentum. 

"Saya pikir (Crazy Rich Asians akan memantik perubahan di Hollywood) adalah apa yang akan terjadi selanjutnya." ujar Masashi Niwano, direktur festival dan pameran Pusat Media Asian Amerika.

Poster film Crazy Rich Asians

Baca juga: Bekraf Upayakan Akselerasi Ekosistem Ekonomi Kreatif

Dampaknya, banyak komunitas Asia-Amerika yang berharap bahwa Searching, film yang bercerita tentang seorang ayah (diperankan oleh John Cho) yang mencari putrinya yang hilang, bisa mendapat menangkap momen dari Crazy Rich Asians. Acara TV dan film Asian-centric akan dirilis, termasuk serial TV dari novel best seller, Pachinkoat Apple. 

Crazy Rich Asians lebih dari tren dan membuktikan bahwa film dengan cerita seperti ini bisa tampil di Box Office. Film ini juga telah membuktikan bahwa orang Asia-Amerika adalah "pasar besar yang belum tersentuh”.

Menurutmu bagaimana?

Baca juga: Sumbangan Film Bagi PDB Jadi Terbesar Kedua

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: Fast Company
TAGS
RECOMMENDATION
LATEST ARTICLE

KASKUS Ingin Komunitas Lebih Melek Hukum

Platform komunitas online terbesar di Indonesia, KASKUS, mengumumkan investasi pada KontrakHukum.com. Targetnya, komunitas di seluruh Indonesia bisa lebih melek hukum.

Rabu, 14 November 2018 | 15:20 WIB