LogoDIGINATION LOGO

Sebelum Sukses, Bill Gates Hapus Kebiasaan Ini

Oleh Sukindar Senin, 9 April 2018 | 04:11 WIB
Share
Siapa sangka, miliader pendiri Microsoft juga harus mengatasi kebiasaan buruknya agar perusahaan teknologi tersebut sebesar sekarang
Share

Siapa sangka, miliader pendiri Microsoft juga harus mengatasi kebiasaan buruknya agar perusahaan teknologi tersebut sebesar sekarang.

Tanggal 4 April 2018 kemarin, usia Microsoft bertambah satu tahun. Empat puluh tiga tahun yang lalu, Bill Gates membangun perusahaan tersebut bersama Paul Allen.

Sejak berusia muda, Gates sudah terobsesi dengan teknologi. Didukung oleh sekolahnya, yakni Lakeside School, kecintaannya terhadap komputer semakin menguat.

Seperti yang dikutip dalam CNCB, Gates mengungkapkan, sekolahnya tersebut telah memiliki teletype sebelum sekolah lain mengakui pentingnya komputer.

Mesin yang terhubung melalui jaringan seluler dengan komputer time-sharing GE tersebut telah mengubah kehidupan Gates.

Sebagian besar waktu dalam hidupnya, waktu itu, dihabiskan untuk mengotak-atik komputer, seperti melakukan coding atau hacking.

Kemudian dia menemukan Allen di sana, yang mana juga terikat dengan kecintaan yang sama dengannya. Mereka berdua sungguh menyukai teknologi.

Baca Juga:
4 Tips untuk Perusahaan Lakukan Transformasi Digital

Pada saat ini, Microsoft telah menjadi perusahaan teknologi dengan nilai multi-miliar dolar. Bahkan, beberapa analis menyebutkan valuasinya dapat mencapai 1 triliun dolar pada tahun 2020.

Meskipun demikian, ada satu kebiasaan buruk yang harus diatasi oleh Gates sehingga perusahaannya mencapai kesuksesan tersebut.

Sang pendiri Microsoft ini menyebutkan dalam sesi wawancara dengan Warren Buffett bahwa dia adalah seorang penunda berat.

Kebiasaan tersebut dipupuknya semasa berkuliah di Harvad University, yang pada akhirnya dia harus keluar dari universitas ternama tersebut.

Dalam ceritanya ke mahasiswa College of Business Administration di University Nebraska-Lincoln, dia senang memperlihatkan bahwa dia tidak melakukan apapun.

Namun setiap mendekati waktu akhir, kadang sekitar dua hari sebelum ujian, Gates akan belajar dengan serius.

Dalam halaman Reddit pun, Gates menegaskan bahwa dia tidak pernah masuk kelas apapun yang dia ambil, namun akan datang ke kelas lain yang tidak diambil.

Baca Juga:
CEO Spotify Jadi Miliarder Muda, Kok Bisa?

Seperti dijelaskan sebelumnya, Gates akan belajar sangat keras dalam sedikit waktu yang diberikan kampusnya sebelum ujian.

Dengan strategi ini, Gates selalu berhasil mendapatkan nilai yang bagus di hampir semua mata kuliah, kecuali pada kelas kimia organik.

Gates menjelaskan tidak ada yang memberikan pujian kepadanya karena dia melakukan apapun di akhir waktu. Hal ini lah yang kemudian membuat berpikir untuk berubah.

Dia mencoba untuk menjadi mahasiswa pada umumnya, yang mana menjalani kuliahnya secara terorganisir dan menyelesaikan tugas tepat waktu.

Meskipun Gates selalu berhasil di sekolah dengan kebiasaan buruk ini, penelitian mengatakan bahwa biaya penundaan jauh melebihi kebebasan jangka pendek.

Bahkan penelitian dalam Psychological Science menyebutkan menunda-nunda dapat menyebabkan kualitas dan kesejahteraan terganggu.

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: CNBC
TAGS
LATEST ARTICLE

Fajar Merekah Bagi eSport di tahun 2019!

Akhir-akhir ini eSport selalu menjadi perbincangan. Kira-kira bagaimana, ya di 2019? Apa kah eSport semakin populer? Yuk, simak prediksinya.

Kamis, 17 Januari 2019 | 11:15 WIB

Belum Tahu eSport? Yuk, Kenali!

Dunia eSport di 2019 terus berkembang tapi masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Yuk, simak pengenalan dunia eSport berikut ini!

Rabu, 16 Januari 2019 | 16:15 WIB

3 Skill IT yang Wajib Dikuasai para Entrepreneur

Ilmu bisnis dan manajemen saja tak cukup membuat bisnis bertahan. Zaman now, pengetahuan tentang bisnis digital dan IT menjadi yang utama. Apa saja yang harus dipelajari para entrepreneur?

Rabu, 16 Januari 2019 | 11:15 WIB

Bikin Startup Masih Ribet, Ini Sebabnya!

Peluang membangun startup di Indonesia selalu terbuka lebar. Namun, apakah birokrasi menjadi faktor bergugurannya startup di tengah jalan?

Selasa, 15 Januari 2019 | 08:15 WIB