LogoDIGINATION LOGO

Pahitnya Nasib Taksi Online di India

Oleh Ana Fauziyah Rabu, 21 Maret 2018 | 13:18 WIB
Share
Agaknya kejayaan pengemudi taksi online di India mulai kehilangan pamornya
Share

Agaknya kejayaan pengemudi taksi online di India mulai kehilangan pamornya. Beberapa tahun lalu, perusahaan penyedia aplikasi transportasi online sedang naik daun di India dengan hadirnya Ola TaxiForSure (kemudian diakuisisi oleh Ola pada tahun 2015), dan Uber.

Pada tahun 2013, ketika Uber memasuki India dan Ola menjadi lebih agresif dalam menghadapi persaingan, kedua perusahaan itu melakukan banyak promosi untuk memancing pengemudi bergabung dengan janji-janji pendapatan tinggi.

Perusahaan-perusahaan tersebut menawarkan insentif yang tinggi kepada mitra pengemudinya, sehingga menjadi pengemudi taksi online pun menjadi profesi yang banyak diminati karena menghasilkan pendapatan yang lumayan.

Ribuan orang tertarik ke industri ini hingga mampu menyedot lebih dari 1,5 juta orang India yang bergabung menjadi mitra pengemudi Ola dan Uber. Sebagian besar dari mereka bahkan telah berhenti dari pekerjaan tetap mereka.

Banyak orang menjual tanah pertanian mereka untuk membeli mobil kemudian bergabung menjadi mitra pengemudi Ola dan Uber, bahkan tidak sedikit yang membeli mobil atau motor dengan cara mencicil.

Namun, saat budaya taksi online sudah memasyarakat di India dan orang-orang sudah terbiasa naik taksi online, perusahaan transportasi berbasis online tersebut lambat laun mulai mengurangi komisi mereka dan mulai mengejar keuntungan bisnis.

Ditambah dengan peningkatan jumlah pengemudi yang masif, alhasil penghasilan mitra pengemudi perusahaan taksi berbasis online di India kini memburuk. Apalagi kini pemerintah India telah meningkatkan kualitas angkutan umum dan memangkas harga tiket menjadi lebih murah. Jaringan bus metro juga telah menjamur di kota-kota besar di India, sehingga konsumen memiliki banyak pilihan angkutan.

Dilansir dari Quartz (Rabu, 21/3), pengemudi taksi online di India berkumpul di Mumbai dan New Delhi untuk melakukan demontrasi pada 19 Maret lalu kepada agregator taksi berbasis aplikasi seluler karena berkurangnya pendapatan.

“Setiap 100 Rupee sangat penting bagi para pengemudi,” ujar Tanveer Pasha, pengemudi taksi online sekaligus presiden Asosiasi Pengemudi Taksi Online di India OUT (Ola, Taxiforsure, dan Uber). “Sebagian besar pengemudi, sekarang hanya mendapatkan 700 Rupee setiap harinya dan harus menyisihkan 500 Rupee untuk membayar angsuran kendaraan,” tutur Pasha. “Jelas kami tidak bisa hidup hanya dengan 200 Rupee dan menghidupi keluarga kami,” tambah Pasha.

Dhananjay Sharma, analis mobilitas online di RedSeer Management Consulting mengatakan bahwa mengurangi insentif sangat penting bagi perusahaan. “Ini sejalan dengan model bisnis mereka,” ujar Sarma. Langkah tersebut akhirnya membuat pengemudi menderita.

“Sekarang kami tidak punya tanah. Mobil itu juga akan disita oleh pemodal kalau tidak mampu melunasi cicilan,” ujar Pasha. Menurut Pasha, ratusan pengemudi taksi online sekarang harus menyambi banyak pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan mobil.

  • Editor: Wicak Hidayat
  • Sumber: Quartz
TAGS
LATEST ARTICLE

Serba-serbi Pendanaan Startup!

Mencari tahu pilihan pendanaan apa yang paling masuk akal bagi setiap orang terlihat cukup rumit karena kebutuhan setiap startup berbeda.

Jumat, 22 Maret 2019 | 08:05 WIB

Sedang Mencari Funding? Hindari 3 Kesalahan Ini

Memiliki ide brilian, langkah selanjutnya adalah mencari pendanaan. Sebelum bertemu investor, pelajari tiga kesalahan umum ini. Jangan sampai kamu melakukannya

Kamis, 21 Maret 2019 | 09:10 WIB

AI untuk UMKM. Mmm, Seperti Apa, ya?

Dari 60 juta UMKM Indonesia hanya 5 % yang sudah memanfaatkan internet. Untuk mendorong pertumbuhan ini Halosis hadir untuk memajukan UMKM dengan teknologi Artificial Intelligence.

Kamis, 14 Maret 2019 | 09:30 WIB

Bisnis Laundry Autopilot Untuk Pensiunan

Bisnis bisa dimulai kapan saja, bahkan ketika pensiun. Bisnis laundry autopilot bisa menjadi pilihan untuk para pensiunan yang tetap ingin menghasilkan walaupun sudah tidak bekerja di kantor.

Jumat, 8 Maret 2019 | 10:12 WIB